jelaskan mengenai kiprah indonesia dalam gerakan non blok
PerananIndonesia dalam Gerakan Non-Blok. Gerakan Non-Blok merupakan gerakan untuk tidak memihak salah satu blok kekuatan di dunia. Pendirian organisasi ini berperan dalam meredam ketegangan dunia. Keberadaan organisasi ini dapat membendung perluasan dari kedua blok yang berseteru. Gerakan ini diikuti oleh sejumlah negara termasuk Indonesia.
LatarBelakang Gerakan Non Blok. Oleh Ibu Guru Diposting pada 12/04/2022. Assalammualaikum, Selamat datang di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas tentang
Kesetaraandan keuntungan bersama 5. Menjaga perdamaian Gerakan Non-Blok sendiri bermula dari sebuah Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika sebuah konferensi yang diadakan di
Liputan6com, Jakarta - Mayoritas negara anggota Gerakan Non-Blok (GNB) yang ikut serta dalam KTT Virtual pada Senin 4 Mei malam, merupakan negara berkembang paling merasakan dampak dari pandemi Virus Corona COVID-19.
mind mapping) mengenai bentuk-bentuk ancaman disintegrasi bangsa, yang . terjadi dalam sejarah Indonesia pada 1948-1965. Sekarang mari kita bahas satu persatu konflik atau pergolakan . yang terjadi di Indonesia pada 1948-1965, yang berhubungan dengan ketiga hal tersebut. 1. Konflik dan Pergolakan yang Berkait dengan Ideologi. a)
Vay Tiền Online Từ 18 Tuổi. Arti kata, ejaan, dan contoh penggunaan kata "kiprah" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI. kiprah n Sen 1 gerakan cepat dan dinamis tarian Jawa dl pertunjukan wayang orang dsb biasanya ditarikan seorang laki-laki; 2 ki derap kegiatan;berkiprah v melakukan kegiatan dng semangat tinggi; bergerak di bidang; berusaha giat dl bidang politik dsb kita sedang ~ untuk melaksanakan pembangunan di segala bidang Bantuan Penjelasan Simbol a Adjektiva, Merupakan Bentuk Kata Sifat v Verba, Merupakan Bentuk Kata Kerja n Merupakan Bentuk Kata benda ki Merupakan Bentuk Kata kiasan pron kata yang meliputi kata ganti, kata tunjuk, atau kata tanya cak Bentuk kata percakapan tidak baku ark Arkais, Bentuk kata yang tidak lazim digunakan adv Adverbia, kata yang menjelaskan verba, adjektiva, adverbia lain - Pengganti kata "kiprah" Kosakata Populer Sedang Dilihat Informasi Tentang Situs Merupakan situs penyedia data mengenai arti kata atau istilah dan cara pengejaannya beserta contoh kalimat yang disadur dari "Kamus Besar Bahasa Indonesia" atau yang biasa disingkat dengan KBBI. Tidak seperti beberapa situs web yang sama, kami mencoba untuk menyediakan berbagai fitur lain, seperti kecepatan akses, menampilkan dengan berbagai membedakan warna untuk jenis kata, tampilan yang tepat untuk semua web browser kedua komputer desktop, laptop dan ponsel pintar dan seterusnya. Fitur lengkap dapat dibaca di bagian fitur Online KBBI. Arti kata seperti kata "kiprah" di atas ditampilkan dalam warna yang membuatnya mudah untuk mencari entri dan sub-tema. Berikut adalah beberapa penjelasan Jenis kata atau Deskripsi istilah-istilah seperti n kata benda, v kata kerja dalam merah muda pink dengan menggarisbawahi titik. Arahkan mouse untuk melihat informasi tidak semuanya telah dijelaskan Makna 1, 2, 3 dan seterusnya ditandai dalam huruf tebal dengan latar belakang lingkaran Contoh penggunaan entri / sub entri yang ditandai dengan warna biru Contoh dalam Amsal ditandai di orange Ketika mengeklik hasil dari "Loading" daftar, hasil yang sesuai dengan kata Cari akan ditandai dengan latar belakang kuning Menampilkan hasil yang baik dalam kata-kata dasar dan derivatif, dan makna dan definisi akan ditampilkan tanpa harus kembali men-download data dari server Link cukup Permalink / Link indah dan mudah diingat untuk definisi kata, misalnya Kata 'teknologi' akan memiliki link di Kata 'konservatif' akan memiliki link di Kata 'rukun' akan memiliki link di Contoh Kata yang Mirip dengan kata "kiprah" yaitu kiprah • suar • rekam • limpap • pending • bet • bokop • tempek • korek • kusuk • sekedup • gembul • tawan • binti • senandung • gorap • hidrokori • kerias • kebaya • multiplikator • mamah • kelentit • seru • taipan • beceng • riadah • avonturir • nutasi • sorak • neng dll Sehingga link ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi dalam menulis, baik pada jaringan dan di luar dikembangkan dengan konsep desain responsif, berarti bahwa penampilan website situs dari KBBI akan cocok di berbagai media, seperti smartphones Tablet pc, iPad, iPhone, Tab, termasuk komputer dan netbook / laptop. Tampilan web akan menyesuaikan dengan ukuran layar yang tambahan baru di luar KBBI edisi IIIMenulis singkatan di bagian definisi seperti yang, dengan, dl, tt, dp, dr dan lain-lain ditulis secara penuh, tidak seperti yang ditemukan di KBBI PusatBahasa.✔ Informasi tambahanTidak semua hasil pencarian, terutama jika kata yang dicari terdiri dari 2 atau 3 surat, semua akan ditampilkan. Jika hasil pencarian dari "Loading" daftar sangat besar, hasil yang dapat langsung diklik pada akan terbatas jumlahnya. Selain itu, untuk beberapa kata pencarian, sistem akan hanya mencari kata-kata yang terdiri dari 4 huruf atau lebih. Misalnya apa yang dicari adalah "water, minyak, dissolve", sehingga hasil pencarian yang akan ditampilkan adalah minyak dan membubarkan beberapa kata pencarian dapat dilakukan dengan memisahkan setiap kata dengan tanda koma, misalnya mengajar, program, komputer untuk menemukan kata-kata pengajaran, program dan komputer. Jika ditemukan, hasil utama akan ditampilkan dalam "base words" kolom dan hasil dalam bentuk kata-kata turunan akan ditampilkan dalam "Loading" kolom. Ini banyak kata pencarian akan hanya mencari kata-kata dengan minimal 4 Surat panjang, jika sebuah kata yang 2 atau 3 Surat panjang, kata akan data arti kata yang terdapat di website ini merupakan hak cipta dari situs resmi KBBI yang beralamat di Jika anda menemukan padanan kata atau arti kata yang menurut anda tidak sesuai atau tidak benar, maka anda dapat menghubungi ke pihak Badan Bahasa KEMDIKBUD untuk memberikan kritik atau saran Berikut adalah informasi kontak dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur. Telepon 021 4706287, 4706288, 4896558, 4894546. Faksimile 021 4750407 Email [email protected]
Pengertian Gerakan Non Blok – Apakah Grameds tahu apa itu gerakan non blok? Jadi, pengertian gerakan non blok ini adalah sebuah organisasi internasional yang terdiri dari 100 negara yang tidak menganggap negaranya beraliansi dengan ataupun terhadap blok kekuatan besar apapun. Tujuan dari adanya organisasi gerakan non blok ini pastinya sebagai salah satu cara untuk mengurangi ketegangan antara dua blok yang terlibat dalam sebuah perselisihan. Selain itu, organisasi ini juga bertujuan untuk menyatukan negara-negara yang tidak ingin membentuk sebuah aliansi dengan negara-negara yang berpartisipasi dalam Perang Dingin. Lalu apa sebenarnya pengertian gerakan non blok? Untuk lebih lengkapnya, yuk simak penjelasan di bawah ini mengenai pengertian gerakan non blok dan sejarah singkatnya. Pengertian Gerakan Non BlokSejarah Gerakan Non BlokTujuan dari Gerakan Non BlokPelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi Non Blok1. Konferensi Ke I2. Konferensi Ke II3. Konferensi Ke III4. Konferensi Ke IV5. Konferensi Ke V6. Konferensi Ke VI7. Konferensi Ke VIIKategori Ilmu EkonomiMateri Terkait Gerakan non blok atau yang biasa disingkat GNB atau Non Aligned Movement NAM merupakan sebuah gerakan yang dipelopori oleh negara-negara dunia ketiga yang mempunyai anggota lebih dari 100 negara dan berupaya untuk menjalankan kebijakan luar negerinya dengan cara tidak memihak siapapun atau tidak menganggap negaranya sendiri mempunyai aliansi dengan Blok Barat ataupun Blok Timur. GNB ini didirikan pada tanggal 1 September 1961 yang mana dipelopori oleh beberapa tokoh, diantaranya yaitu Soekarno dari Indonesia, Jawaharlal Nehru dari India, Gamal Abdul Nasser dari Mesir, Kwame Nkrumah dari Ghana, dan juga Joseph Broz Tito dari Yugoslavia. Negara Blok Barat dengan jumlah yang lebih banyak yakni delapan negara yang terdiri dari Inggris, Amerika Serikat, Belgia, Perancis, Kanada, Belanda, Luxemburg, dan Norwegia. Sementara untuk Blok Timur hanya terdiri dari empat negara saja, yakni Jerman Timur, Cekoslovakia, Rumania, dan juga Uni Soviet. Untuk bisa mempertahankan kedudukan tiap blok, Blok Barat akhirnya membentuk North Atlantic Treaty Organization atau NATO. Sementara untuk Blok Timur membentuk Pakta Warsawa. Selain itu, kedua blok tersebut terus mencari sekutu untuk menambah pertahanannya di Asia, Afrika, dan juga Amerika. Walaupun saat ini kedua blok sudah tidak lagi berperang, namun perbedaan antara kedua blok tersebut terus menjadi bahan permasalahan dalam kehidupan internasional. Oleh sebab itu, dalam menanggapi keadaan yang sewaktu-waktu bisa memanas, negara yang baru mendapatkan kemerdekaan di wilayah Asia Afrika juga akhirnya melakukan diskusi melalui Konferensi Asia Afrika atau KAA yang dilaksanakan di Bandung, Jawa Barat. Menurut situs Kemlu RI, Konferensi Asia Afrika ini mempunyai hubungan yang cukup erat dengan GNB. Pada pertemuan negara anggota KAA di Indonesia pada 1955, lalu setelah itu lahirlah kesepakatan yang bernama Dasasila Bandung. Dalam kesepakatan tersebut, berisi tentang prinsip penyelenggaraan kerja sama internasional. Setelah itu, tepat pada tanggal 1 hingga tanggal 6 September 1961, telah dilaksanakan kembali Konferensi Tingkat Tinggi atau KTT I yang dilaksanakan di Boegorg, Yugoslavia. Konferensi tersebut dihadiri oleh kurang lebih 25 negara termasuk juga Indonesia. Melalui konferensi tersebut, kemudian lahir sebuah organisasi negara yang netral atau GNB. Oleh sebab itu, GNB akhirnya ditetapkan secara resmi pada tanggal 1 September 1961. Beberapa negara yang ada di dalam GNB dan ikut serta menghadiri KTT I diantaranya yaitu Aljazair, Afghanistan, Arab Saudi, Sri Lanka, Burma, Kongo, Kamboja, Kuba, Ethiopia, Cyprus, Ghansa, India, Guinea, Indonesia, Lebanon, Irak, Maroko, Mali, Sudan, Somalia, Tunisia, RPA, Yugoslavia, Yaman dan Nepal. Di dalam Konferensi Tingkat Tinggi I tersebut, negara pendiri GNB sepakat untuk mendirikan gerakan, bukan sebuah organisasi untuk menghindari diri dari segala implikasi birokrasi dalam membangun sebuah upaya kerja di antara tiap negara GNB. Kemudian KTT I menegaskan bahwa GNB tidak akan diarahkan pada peran yang pasif dalam politik internasional. Namun untuk memformulasikan posisi negara sendiri dengan cara yang independen yang bisa merefleksikan semua kepentingan negara anggota. GNB berhasil menempati posisi khusus dalam politik luar negeri di Indonesia. Hal itu disebabkan karena sejak awal mula terbentuknya GNB, Indonesia mempunyai peran yang sentral, KAA pun menjadi salah satu bukti peran dan juga kontribusi Indonesia dalam mempelopori berdirinya Gerakan Non Blok tersebut. Secara khusus, Presiden Soekarno juga diakui sebagai salah satu tokoh penggagas dan juga pendiri dari organisasi GNB. Indonesia menilai bahwa GNB ini mempunyai peran yang penting. Karena prinsip dan juga tujuan GNB adalah untuk melakukan refleksi dari perjuangan dan juga tujuan bangsa Indonesia, seperti yang tertuang di dalam UUD 1945. Sejarah Gerakan Non Blok Kata “Non Blok” ini pertama kali diperkenalkan oleh Perdana Menteri India yakni Jawaharlal Nehru dalam pidatonya pada tahun 1954 di Colombo, Sri Lanka. Di dalam pidato tersebut, Nehru menjelaskan mengenai lima pilar yang bisa digunakan sebagai pedoman untuk membentuk relasi Sino-India yang disebut dengan Panchsheel atau lima pengendali. Prinsip tersebut kemudian digunakan sebagai basis dari Gerakan Non Blok. Isi dari lima prinsip tersebut diantaranya 1. Saling menghormati integritas teritorial dan kedaulatan. 2. Perjanjian non-agresi 3. Tidak mengintervensi urusan dalam negeri negara lain 4. Kesetaraan dan keuntungan bersama 5. Menjaga perdamaian Gerakan Non Blok ini berawal dari sebuah Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika yang diselenggarakan di Bandung, Indonesia pada tahun 1955. Di dalam konferensi tersebut, negara-negara yang berpihak pada blok tertentu akan mendeklarasikan keinginan mereka untuk tidak terlibat dalam konfrontasi ideologi Barat atau Timur. Pendiri dari gerakan ini yaitu lima pemimpin dunia, antara lain Josip Broz Tito presiden Yugoslavia, Soekarno presiden Indonesia, Gamal Abdul Nasser presiden Mesir, Pandit Jawaharlal Nehru perdana menteri India, dan Kwame Nkrumah dari Ghana. Gerakan yang satu ini sempat kehilangan kredibilitasnya di akhir tahun 1960 an saat anggotanya mulai terpecah dan bergabung dengan Blok lain, termasuk juga Blok Timur. Setelah itu, muncullah pertanyaan mengenai bagaimana sebuah negara yang bersekutu dengan Uni Soviet seperti Kuba dapat mengklaim dirinya sebagai negara nonblok. Gerakan tersebut kemudian mulai terpecah sepenuhnya pada masa invasi Soviet terhadap Afghanistan pada tahun 1979. Konferensi Tingkat Tinggi atau KTT ASEAN merupakan puncak pertemuan antara pemimpin negara-negara anggota ASEAN dalam hubungannya dengan pembangunan ekonomi dan budaya diantara negara-negara Asia Tenggara. Untuk bisa mencapai tujuan ASEAN yang sudah dirumuskan, maka perlu untuk melakukan bisnis dan juga kegiatan. Dalam pelaksanaan 11 komite sudah dibentuk, misalnya saja bahan makanan dan komite pertanian, keuangan, pariwisata, dan juga media massa. Komite ini memiliki tujuan untuk meningkatkan bentuk kerja sama antara enam negara anggota. Selain itu, juga membentuk komite-komite dari Komite Ad Hoc atau Working Panitia. Komite tersebut antara lain, Pansus yang memiliki tugas untuk meningkatkan hubungan perdagangan dengan ECC. Kemudian juga panitia bertugas meningkatkan kerja sama antara ASEAN dan Australia, Selandia Bari, Kanada, dan negara yang lainnya. Tujuan dari Gerakan Non Blok Tujuan utama dari adanya gerakan non blok atau GNB ini adalah untuk mendukung hak untuk bisa menentukan nasib sendiri, kedaulatan, kemerdekaan nasional, dan juga integritas nasional dari negara-negara anggota. Selain itu, tujuan utama dari GNB ini adalah sebagai berikut 1. Menentang adanya apartheid. 2. Tidak memihak pakta militer multilateral. 3. Berjuang untuk menentang semua bentuk dan manifestasi para imperialisme. 4. Memperjuangkan dan menentang kolonialisme, pendudukan, rasisme, neo-kolonialisme, dan dominasi dari asing. 5. Pelucutan senjata. 6. Tidak akan mencampuri urusan dalam negeri dari negara lain dan hidup berdampingan dengan damai. 7. Menolak menggunakan atau mengancam kekuatan dalam hubungan internasional. 8. Membangun ekonomi sosial dan restrukturisasi sistem perekonomian secara internasional. 9. Melakukan kerja sama internasional sesuai dengan persamaan hak. 10. Mengembangkan solidaritas antar negara berkembang untuk mencapai kemakmuran, kebersamaan, dan kemerdekaan. 11. Meredakan ketegangan dunia, karena munculnya perseteruan antara dua blok yakni Blok Barat dan Blok Timur. Pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi Non Blok Konferensi Tingkat Tinggi Non Blok merupakan konferensi tingkat tinggi yang dilaksanakan oleh negara-negara yang menganut prinsip politik tidak terikat oleh salah satu blok. 1. Konferensi Ke I Pertemuan pertama dilakukan pada tahun 1961 di Beograd untuk memicu prinsip politik bersama-sama. Arti dari politik tersebut berbunyi “politik berdasarkan hidup berdampingan secara damai, bebas blok, bukan anggota aliansi militer dan impian aspirasi menghilangkan kolonialisme dalam semua bentuk dan manifestasinya”. Konferensi pertama Non-blok yang dilakukan pada bulan September tahun 1961 di Beograd dinilai sebagai kelanjutan dari Konferensi Asia Afrika di Bandung. Sebanyak 25 negara ikut ambil bagian, 8 dari Asia, 9 dari Afrika, 1 dari Eropa Yugoslavia, kemudian salah satu dari Amerika Latin Kuba dan 6 dari Arab. Konferensi tersebut merupakan kekuatan pendorong dari Presiden Tito yang bergeser ke Dunia Ketiga karena mereka ingin melarikan diri dari blok isolasi kedua. Threesome dengan Nehru dan juga Nasser, Tito memainkan pertemuan kelompok vokal. Dimana konferensi tersebut membahas mengenai diskriminasi rasial, bantuan untuk kemajuan, dan juga pengembangan dan pelucutan senjata. 2. Konferensi Ke II Konferensi yang kedua dilakukan pada bulan Oktober tahun 1964 di Kairo. Dimana dalam konferensi tersebut diikuti oleh utusan 48 negara dan 10 negara status pengamat resmi, yang mana sebagian besar adalah Amerika Latin. Di kedua konferensi sudah terlihat konflik antara pimpinan moderat kelompok negara Nehru dan juga pemimpin kelompok radikal Soekarno serta Kwame Nkrumah. 3. Konferensi Ke III Pada September tahun 1970, Konferensi yang ketiga diadakan di Lusaka, Ibukota Zambia. Jumlah peserta yang hadir pada saat itu meningkat menjadi 54 negara, 9 negara mengirimkan pengamat. Tema utama dari Konferensi yang satu ini, yang dipimpin oleh Presiden Zambia, Kenneth Kaunda adalah mengenai sengketa rezim minoritas kulit putih rasis yang ada di Afrika Selatan. Prinsip non blok dinyatakan tidak mengurangi kekuatannya seperti yang sudah dirumuskan di Kairo dan juga Beograd. 4. Konferensi Ke IV Konferensi tingkat tinggi keempat berlangsung pada bulan September 1973 dan diikuti oleh 75 negara di Aljazair. Dimana pada saat itu, Pangeran Sihanouk yang berasal dari Kamboja mewakili pemerintah kerajaan. Para pengamat yang terdiri dari gerakan kemerdekaan organisasi dan pembebasan Afrika Selatan dan juga Amerika Latin. Adapun tema utama yang disampaikan pada konferensi yang dipimpin oleh Presiden Boumediene Aljazair mengenai masalah negara-negara miskin. Dalam penutupannya, hak resolusi dirumuskan menasionalisasi perusahaan asing. 5. Konferensi Ke V Konferensi kelima dilaksanakan pada Agustus 1976 di Colombo, Ibukota Sri Lanka. Dalam konferensi ini, selain diperkuat dari negara-negara non blok yang merugikan tatanan ekonomi dunia yang tidak adil dan dapat mengancam perdamaian dunia, juga dirumuskan bersama untuk melawan negara non blok di bidang perdagangan. industri, media teknologi informasi, yang mana termasuk cara memperkuat negara-negara non-blok. Dari konferensi tersebut, mereka berhasil merumuskan program aksi bersama yang disebut dengan deklarasi perjuangan. 6. Konferensi Ke VI Konferensi keenam dilaksanakan pada September 1979 di Havana, Ibukota Kuba. Untuk jumlah peserta yang mengikuti konferensi tersebut adalah 94 negara, 20 pengamat, dan 18 organisasi dan juga negara-negara dengan status tamu. Walaupun suasana diliputi oleh konflik antara moderat dan radikal, namun konferensi berhasil merumuskan resolusi untuk memperkuat prinsip-prinsip non blok yang dirumuskan dalam sebuah deklarasi politik. Tak hanya itu saja, deklarasi ekonomi yang memperkuat sikap non blok terhadap apa yang mereka klaim sebagai yang merugikan dominasi kekayaan ekonomi asing negara-negara berkembang juga berhasil dirumuskan. 7. Konferensi Ke VII Keanggotaan Kamboja tidak berhasil diselesaikan. Sehingga, baik pemerintah Heng Samrin dan juga Pol Pot rezim hanya menjadi status pengamat, Non-blok Summit, yang seharusnya dilaksanakan pada September 1982 di Baghdad, Ibukota Irak dibatalkan karena adanya perang antara Irak dan Iran yang belum berhasil diselesaikan. Lalu, Delhi Ibukota India menjadi pengganti tempat untuk konferensi non blok yang ketujuh ini. Demikian penjelasan mengenai pengertian gerakan non blok, sejarah, dan juga tujuan dari adanya gerakan non blok. Semoga bermanfaat. Kategori Ilmu Ekonomi Buku Ekonomi Buku Soekarno Buku Sosiologi Buku Geografi Buku Ideologi Pancasila Buku Sejarah Indonesia Materi Terkait Pengertian Sejarah Daftar Pahlawan Revolusi Daftar Pahlawan Nasional Indonesia Organisasi Pergerakan Nasional Sejarah Proklamasi Kemerdekaan RI Sejarah Teks Proklamasi Sejarah Pertempuran Surabaya Sejarah Sumpah Pemuda Tujuan PPKI dibentuk Hasil Sidang PPKI Pertama Proses Penyusunan Teks Proklamasi ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah." Custom log Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda Tersedia dalam platform Android dan IOS Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis Laporan statistik lengkap Aplikasi aman, praktis, dan efisien
Oleh Muhammad Zidni Nafi’ Dari hari ke hari wacana Islam Nusantara telah yang diangkat menjadi tema Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama NU awal Agustus 2015 lalu terus mendapat perhatian berbagai kalangan, mulai diskusi kecil di warung kopi, ruang akademis hingga pejabat pemerintahan pun tak mau ketinggalan. Islam Nusantara bak artis sedang naik daun lantaran pemberitaannya di berbagai media entertain yang biasa menggosip’kan sesuatu yang banyak mengundang pro dan kontra. Tulisan ini bukan untuk memperuncing perdebatan, namun hendak menyampaikan suatu gagasan yang berangkat fakta sejarah bagaimana kiprah Islam Nusantara ikut serta dalam meraih kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus sudah 70 tahun masyarakat Indonesia merayakan kemerdekaannya. Tiada kekuatan tunggal dalam merebut kemerdekaan tersebut. Segenap masyarakat pribumi saling kerjasama berjibaku melawan kolonialisme. Dari sekian kekuatan, gerakan Islam Nusantara pada waktu itu menjadi salah satu entitas yang tidak bisa dianggap sepele, dan sangat disayangkan apabila sampai tidak tercatat di dalam sejarah Nusantara yang kini sebagian besar wilayahnya dikenal menjadi Baru dalam Fakta SejarahIstilah 'Islam Nusantara' diakui ataupun tidak merupakan produk baru namun subtansinya sudah ada sejak masuk ke Nusantara. Dalam konteks ini mempunyai mata rantai dengan hasil riset KH Hasyim Asyari yang kemudian mencetuskan terma 'muslimul aqtharil jawiyyah' masyarakat Islam Jawa dan sekitarnya pada 1912 M. Memilih terma 'Islam Nusantara' agar masyarakat Muslim Indonesia lebih nyaman dan mudah memahami dibanding menyebut 'Islam Negeri Jawa'. Meskipun di era lampau penyebutan kata 'Jawa' itu bermaksud menunjuk teritorial Asia Tenggara di era kini namun faktanya hanya segelintir orang yang mengetahui hal tersebut. Kalimat 'muslimul aqtharil jawiyyah' yang dipopulerkan KH Hasyim Asyari seratus tahun lalu adalah gambaran mayoritas Muslim dalam berpikir dan bertindak manhajan wa ibadatan. Istilah 'muslimul aqtharil jawiyyah' menembus 14 abad. Sebab kalimat 'muslimul aqtharil jawiyyah' itu implementasi dari nash syariah, 'sawadul a'dham' corak Muslim mayoritas yang disabdakan oleh Rasulullah Saw. dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam juga term 'muslimul aqtharil jawiyyah' sebagai implementasi atas teks suci tersebut yang dikreasi oleh KH Hasyim Asyari 14 abad setelah term sawadul a'dham’. Sedangkan NU memperkenalkan 'Islam Nusantara' seratus tahun setelah KH Hasyim Asyari memperkenalkan terma 'muslimul aqtharil jawiyyah'. Semua itu dirancang, dikreasikan, diwujudkan, diciptakan dan bukan tumbuh secara spontan Sulton Fatoni, 2015.Dari situ dapat dipahami bahwa Islam Nusantara dalam masa kolonial saat itu merupakan mayoritas umat Islam di Nusantara dengan berbagai macam elemen yang bersatu padu untuk meraih kemerdekaan. Fakta sejarah Islam Nusantara dalam tulisan ini diharapkan sedikit atau banyak dapat diaktualisasikan dalam konteks kekinian, dimana bangsa ini sedang membutuhkan angin segar’ untuk mengarungi masa Nusantara dan NasionalismeSudah tidak menjadi rahasia umum lagi bahwa konsep Islam Nusantara merupakan karakterisktik Wali Songo dalam membumikan Islam di kepulauan Nusantara. Wali Songo sebagai aktor utama yang hingga kini diteruskan oleh ulama Nusantara telah berhasil melakukan dialektika antara teks ajaran Islam dengan realita budaya lokal setempat. Tentu hadirnya Islam Nusantara tidak berniat untuk menggerogoti supaya Islam menjadi rapuh, justru Islam Nusantara hendak melahirkan, membentuk hingga menguatkan kembali masyarakat agar tetap berbudaya dan taat kajian Islam Nusantara yang dikaji oleh Prof Dr KH Said Aqil Siroj 2015 menyebutkan bahwa Islam yang dikembangkan di Nusantara ini mempunya tiga pilar; 1 Ukhuwah Islamiyah; landasan teologis dalam menjalin persaudaraan tidak hanya dengan sesama Islam, juga agama atau kepercayan lain; 2 Ukhuwah Wathaniyah; landasan persaudaraan antar bangsa sebagai dimensi nasionalisme religius –bermula dari doktrin hubbul wathan minal iman cinta bangsa sebagian dari iman— yakni nasionalisme yang disinari dan disemangati agama. Selain itu, sikap nasionalisme yang muncul menjadi sebuah gerakan lantaran masyarakat mengalami nasib serupa dalam upaya meraih kehidupan yang sejahtera, bebas dan aman dari pengaruh kolonialisme; lebih lanjut, kedua pilar tersebut dapat ditingkat sampai pada 3 Ukhuwah Insaniyah; sebagai dimensi paling tinggi yang menjalin persaudaraan kemanusiaan Wahid Gus Dur dalam “Pribumisasi Islam” yang ia populerkan juga menekankan nilai dasar ajaran Islam Weltanschauung Islam dalam tiga bagian; persamaan, keadilan dan demokrasi. Ketiga ini diejawantahkan dalam sikap keislaman, kebangsaan dan kemanusiaan. Itulah kenapa ada agenda prioritas dimana Gus Dur mengajak untuk menciptakan kesadaran masyarakat tentang apa yang harus dilakukan umat Islam dalam bangsa Indonesia majmuk ini. Dengan kata lain, nasionalisme umat Islam di Indonesia harus beriringan dengan menjalin dan menjaga hubungan dengan setiap unsur bangsa. Bukan malah mengaktualisasikan spirit Islam guna mengagendakan pertumpahan darah seperti yang kini dialami oleh sebagian negara-negara Timur Mengambil Alih Basis PerlawananSejak Maret 1602, pada saat Belanda mendirikan serikat dagang VOC Verenigde Oostindische Compagnie, salah satu gerakannya yakni memonopoli perdagangan rempah-rempah di kawasan Nusantara pada kala itu berbuntut pada perlawanan-perlawanan yang dilakukan oleh kerajaan yang ada di Nusantara misalnya Kerajaan Banten dan Kerajaan Mataram. Namun kiprah kerajaan tersebut tidak berlangsung lama. Pihak VOC berhasil mengajak damai’ pihak kerajaan dalam upaya mengelola hasil bumi Nusantara. Sehingga kemelut VOC dengan pribumi khususnya di Jawa meletus ditandai dengan Perang Jawa yang dikomandoi oleh Pangeran Diponegoro salah satu anak Sultan Hamengkubuwono III yang keluar dari istana kerajaan untuk menghimpun kekuatan masyarakat di luar upaya protes dan inisiatif perlawanan mulai diambil alih oleh kalangan luar istana dengan subjek yang memiliki latar belakang sebagai pemuka lokal, orang biasa, dan para pemuka agama. Dengana adanya kecenderungan ini maka di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, beberapa kawasan Jawa Barat dan Batavia mulai bermunculan gerakan-gerakan tradisional yang berusaha untuk melakukan perubahan dan perlawanan. Dalam konteks inilah, institusi pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam di Jawa, memiliki peran yang sangat penting dalam membangun gerakan yang bersifat messianistik. Oleh karenanya, Belanda sangat mencurigai keberadaan pesantren dan tarekat sebagai tempat dalam mendukung dan melakukan pembentukan unitas kemasyarakatan dan tempat konsentrasi dalam menanamkan rasa kebencian dan permusuhan terhadap pemerintah kolonial Hindia tidak hanya sekedar menjadi tempat pendidikan, melainkan juga menjadi tempat penanaman para kader dan pemimpin agama yang pada kelanjutannya sanggup mempengaruhi serta memimpin beberapa gerakan perlawanan terhadap kolonial Zainul Milal Bizawie, 2014 53-55. Sebagai subjek vital dalam menjaga, mengembangkan dan melestarikan budaya lokal, pesantren mampu mendialogkan dengan ajaran Islam yang bertahan hingga dewasa ini, sehingga kreatifitas ijtihad ala Islam di Nusantara tersebut tidak sebatas membangun romantisme agama dan budaya yang melahirkan gerakan perlawanan kultural, namun juga mengkristal menjadi spirit membela bangsa sebagaimana ditunjukkan oleh ulama Garda DepanSemenjak kolonial masuk pada akhir abad 16, sebagian besar wilayah Nusantara telah memeluk Islam berkat prestasi Wali Songo dengan metode dakwah yang persuasif. Usai periode Wali Songo berakhir, mulai bermunculan ulama yang bersamaan dengan masuknya kolonialisme di Nusantara. Sehingga proses yang begitu panjang mereka bisa mengadakan hubungan dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Timur Tengah, praktis terbentuklah jaringan ulama Timur Tengah pada abad 17-18 yang dipelopori oleh Syekh Abdul Rauf Al-Sinkili dan Syekh Nuruddin A-Raniri w. 1068/1658, Syeikh Yusuf Al-Maqassari w. 1111/1699, Syekh Abdus Shomad Al-Palimbani, Syekh Arsyad Al-Banjari. Dakwah dan penyebaran ilmu ulama ini sangat dengan karakteristik sufisme. Lebih hebatnya, mereka juga mengajarkan kepada murid beserta masyarakatnya untuk terlibat jihad melawan Belanda pada saat itu Azyumardi Azra, 2004.Para ulama pada abad 19 seperti Pangeran Diponegoro, Kiai Maja, Imam Bonjol, ulama-ulama gerakan Paderi, Syekh Nawawi Al-Bantani, dan lain-lain. Milal Bizawie 2014 61 menyebutkan peranan ulama pada abad ini tidak bisa dilepas dalam upaya membebaskan negeri dari penjajahan. Para ulama memiliki minimal dua peran, yaitu sebagai pengajar, pemikir maupun pembaharu, juga sebagai panglima atau pemimpin perang melawan imperialisme Barat. Peran-peran inilah menjadi ciri khas keberadaaan jaringan ulama pada sekitar abad kultural dan peperangan yang dipimpin kiai-kiai pesantren juga masih konsisten pada abad 20 melawan kolonialisme Belanda, juga Jepang masuk menggantikan Belanda. Terbukti terbentuknya Laskar Hizbullah pada tahun 1944 yang berisikan kiai-santri yang bergabung sebagai tentara PETA Pembela Tanah Air. Peran kiai –sebagaimana dikutip Ali Maschan Moesa— dalam perang kemerdekaan tidak hanya dalam laskar Hizbullah-Sabilillah saja, tetapi banyak di antara mereka menjadi komandan dan anggota tentara PETA Gugun Al-Guyanie, 2012 35.Laskar ulama-santri yang tergabung dalam tentara Hizbullah-Sabilillah mengawal sampai Proklamasi kemerdekaan Indonesia, bahkan menjadi subjek utama dalam Resolusi Jihad yang difatwakan pada 22 Oktober 1945 guna mempertahakan kemerdekaan Indonesia saat Belanda dan sekutunya melakukan agresi rangkaian bukti sejarah kiprah Islam Nusantara yang diwariskan oleh Wali Songo, lalu diteruskan ulama dan pesantren sebagai basisnya ikut serta menyumbangkan kekuatan untuk meraih kemerdekaan atas pengaruh kolonialisme selama berabad-abad yang mendiami bumi Nusantara KemerdekaanSelain mempertahankan kemerdekaan, Islam Nusantara yang juga relevan dengan kondisi geopolitik dan geokultural global, saat ini pula perlu terus dilestarikan guna membentengi pengaruh asing maupun dalam negeri yang hendak memperkeruh suasana di Negara Kesatuan Republik kemerdekaan tersebut tentu tetap harus menunjukkan sikap berislam yang berbudaya luhur, ramah dan rukun antarsesama entis dan umat beragama. Juga, tidak berapi-berapi demi tegaknya simbol-simbol Islam yang tak bersubtansi Rumah PR kita kali ini bagaimana Islam Nusantara terus mewarnai kemerdekaan Bangsa Indonesia yang sejati dengan berbagai khazanah yang diwariskan para pendahulu. Dari situ muncul pertanyaan, sejauh mana kecanggihan Islam Nusantara, khususnya para pegiatnya untuk menjawab kebutuhan masyarakat global akan perdamaian dan kesejahteraan dalam berbagai bidang menjadi tantangan ke depan?Penulis adalah santri alumni Ma’had Qudsiyyah Kudus, aktivis CSSMORA dan PMII Rayon Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
- Gerakan Non Blok GNB adalah organisasi internasional yang membawahi 120 negara di dunia dan menganggap diri mereka tidak beraliansi dengan kekuatan besar mana pun alias netral. Salah satu negara yang memiliki peran penting dalam Gerakan Non Blok adalah Indonesia. Lantas, apa saja peran Indonesia dalam Gerakan Non Blok?Baca juga Alasan Indonesia Berkontribusi dalam Gerakan Non-Blok Mempelopori berdirinya GNB GNB berawal pada 1950-an sebagai upaya beberapa negara untuk menghindar dari polarisasi dunia atas terjadinya Perang Dingin yang terjadi antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet. Dalam Perang Dingin, baik AS atau Uni Soviet saling berebut pengaruh dengan target utama negara-negara berkembang yang baru merdeka, seperti Indonesia dan India. Kondisi ini yang kemudian mendorong Perdana Menteri India masa itu, Jawaharlal Nehru, dan beberapa pemimpin negara lain, termasuk Indonesia, mencetus berdirinya Gerakan Non Blok. Tujuan utama dari Gerakan Non Blok adalah mendukung hak untuk bisa menentukan nasib sendiri, kedaulatan, kemerdekaan nasional, dan integritas nasional. Oleh sebab itu, Indonesia dan negara anggota GNB lainnya tidak ingin mendapat pengaruh dari negara lain, seperti Amerika Serikat dan Uni Soviet. Baca juga Peran Aktif Indonesia dalam Konferensi Asia Afrika Menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika KAA Sebelum mendeklarasikan GNB, para pemimpin negara berkembang lebih dulu mengadakan empat pertemuan. Salah satu pertemuannya diadakan di Indonesia, tepatnya Bandung, Jawa Barat, sejak 18-24 April 1955.
Ilustrasi peran Indonesia dalam gerakan non-blok. Foto Non-Blok GNB merupakan sebuah gerakan yang tercipta saat perang dingin pada tahun 1961. Gerakan ini tercipta karena negara bekas jajahan barat yang baru merdeka enggan memihak kedua blok, baik Amerika maupun Rusia. Gerakan ini beranggotakan negara-negara berkembang yang baru merdeka dari jajahan bangsa barat, salah satunya Indonesia. Selain menjadi anggota, Indonesia ternyata memegang peranan penting di GNB. Apa saja peran-perannya? Simak penjelasan berikut. Ikut Menggagas Gerakan Non-Blok GNBSebelum GNB terbentuk, gagasannya sudah ada terlebih dahulu lima tahun sebelumnya. Kala itu, Presiden Soekarno mengadakan pertemuan dan mengundang pemimpin negara di Asia dan Afrika yang baru merdeka ke Bandung. Pertemuan itu melahirkan sebuah gagasan yang disebut dasasila. Gagasan ini yang kemudian menjadi cikal bakal terlahirnya gagasan GNB. Pertemuan ini dikenal sebagai Konferensi Asia-Afrika KAA. Melalui gagasan itu, terciptalah Gerakan Non-Blok yang dirintis oleh beberapa pemimpin negara. Para pemimpin negara yang terlibat di antaranya, Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito, PM India Jawaharlal Nehru, Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, PM sekaligus Presiden Ghana Kwame Nkrumah, dan Presiden Indonesia Soekarno. Memimpin Gerakan Non-BlokSetelah aktif terlibat merintis GNB, Indonesia akhirnya berkesempatan memimpinnya. Kepemimpinan Indonesia dimulai dari tahun 1992-1995, dipimpin oleh Presiden Soeharto. Selain itu, Indonesia juga menjadi tuan rumah Konverensi Tingkat Tinggi X Gerakan Non-Blok pada 1-6 September 1992. Mengupayakan Perdamaian DuniaSalah satu pokok gagasan dari Gerakan Non-Blok ialah politik bebas aktif. Bebas artinya tidak memihak salah satu blok kekuatan. Dan aktif artinya giat menciptakan perdamaian dunia. Dalam beberapa pertemuan GNB, Indonesia mendukung kemerdekaan Palestina, meminta diskriminasi ras di Afrika Selatan diakhiri, dan menolak penggunaan senjata nuklir. Indonesia juga turut membantu meredakan ketegangan di Yugoslavia pada tahun 1991.
jelaskan mengenai kiprah indonesia dalam gerakan non blok